Meditasi Dapat Merubah Otak

Tahukah Anda, bahwa melakukan program mindfulness meditation dalam jangka waktu delapan minggu bisa mengubah struktur otak? Perubahan di area otak yang antara lain terkait dengan ingatan, empati, dan stres ini bahkan bisa diukur untuk pertama kalinya oleh peneliti dari Massachusetts General Hospital, AS.

“Walaupun penerapan meditasi diasosiasikan dengan perasaan tenteram dan relaksasi fisik, para praktisi telah lama menyatakan bahwa mindfulness meditation juga memberikan keuntungan kognitif dan psikologis yang bertahan seharian,” ujar Sara Lazar PhD, dari MGH Psychiatric Neuroimaging Research Program.

Struktur otak 16 partisipan ditangkap dengan Magnetic Resonance Imaging (MRI) dua minggu sebelum dan sesudah mengikuti Mindfulness-Based Stress Reduction (MBSR) Program di University of Massachusetts Center for Mindfulness. Rekaman gambar otak juga diambil dari grup yang tidak melakukan meditasi, dalam interval waktu yang mirip.

Analisis MRI menemukan adanya kepadatan substansi kelabu (grey matter) yang meningkat di hipokampus—yang penting bagi proses pembelajaran serta ingatan—dan dalam struktur yang berhubungan dengan kesadaran, rasa kasihan dan introspeksi.

Berkurangnya stres yang dialami peserta juga terkait dengan penurunan kepadatan substansi kelabu di amigdala, yang diketahui memainkan peran penting dalam kegelisahan dan stres. Tidak satu pun perubahan ini terlihat di grup yang tidak melakukan meditasi.

Di Universitas Gadjah Mada, sebuah penelitian pernah dilakukan pada tahun 2007 untuk melihat pengaruh pelatihan mindfulness meditation terhadap penurunan tingkat kecemasan siswa kelas tiga SMA Negeri 1 Pleret yang selamat dari gempa bumi tanggal 27 Mei 2006. Hasil penelitian mengungkap, meditasi ini memang berguna untuk menurunkan tingkat kecemasan secara signifikan.

Sumber : www.nmr.mgh.harvard.edu & http://notasijelajah.blog.nationalgeographic.co.id/2011/01/28/meditasi-mengubah-otak/

Sekelompok Peneliti Klaim Temukan Atlantis di Spanyol

Sekelompok peneliti mengklaim telah menemukan Atlantis, terkubur lumpur di daerah ujung selatan Spanyol. Peradaban berumur 4.000 tahun itu terkubur akibat tsunami.

Upaya penemuan ini dimulai tahun 2004, ketika ahli fisika Rainer Kuhne dari Jerman melihat bentuk aneh di rawa di sekitar Sungai Guadalquivir, Spanyol, lewat sebuah foto satelit. Ia melihat bayangan geometris yang diperkirakan sebagai mirip dengan reruntuhan kota.

Menindaklanjuti temuan tersebut, tim peneliti dari tiga negara memetakan tanah dan mengeluarkan bukti-bukti kehidupan manusia yang terkubur di lumpur. "Kami menemukan perapian umum dan sistem saluran air terkubur di bawah Donana National Park," kata Kuhne.

Tim peneliti juga menemukan artefak agak jauh ke arah utara. Kota kedua itu disebut-sebut sebagai tempat pengungsian dari tsunami. Di kota itu, peneliti menemukan monumen-monumen untuk mengenang para korban.

Richard Freund, arkeolog dari Hartford University di Connecticut menjelaskan kalau peradaban itu diterjang tsunami. "Tsunami yang sangat besar," kata Freund kepada Reuters.

Arkeolog telah mencari Atlantis sejak Plato pertama kali menggambarkannya 2.600 tahun yang lalu. Plato mengatakan kota itu terletak di dekat pilar Hercules. Plato juga mengatakan, "Dalam waktu sehari semalam... menghilang ke kedalaman laut."

Upaya pencarian telah dilakukan di berbagai kepulaian Mediteran dan Aegean, Segitiga Bermuda, Bolivia, bahkan Kutub Selatan.

Sumber: http://www.nationalgeographic.co.id/lihat/berita/742/sekelompok-peneliti-klaim-temukan-atlantis-di-spanyol

Penuaan Manusia Mirip Simpanse, Gorila, dan Primata Lain

Manusia punya umur yang setara dengan umur primata meskipun manusia memiliki tingkat kehidupan yang lebih tinggi--teknologi, pakaian, obat-obatan, dan lainnya.

Anne Bronikowsi dan timnya dari Department of Ecology, Evolution and Organismal Biology di Iowa State University mendapati kalau wanita memiliki kemiripan dengan gorila dalam hal kematian bayi. Dalam hal laju penuaan, wanita memiliki kemiripan dengan simpanse, sifaka, babon, dan muriqui.

Sementara itu, pria sedikit lebih lambat menua dibandingkan dengan primata. "Tapi perbedaannya sangat tipis," kata peneliti. "Bisa dibilang, penuaan pada pria mirip dengan penuaan pada wanita dan primata lain dalam studi ini," tegas Bronikowski.

Bronikowski membandingkan data hasil penelitian jangka panjang mengenai manusia dan primata-primata liar, termasuk monyet dari Costa Rica, Brazil, babon dan monyet biru dari Kenya, simpanse dari Tanzania, Gorila dari Rwanda, dan lemur dari Madagaskar.

Seluruh primata, seperti manusia, mengalami tingkat kematian bayi yang tinggi, diikuti oleh tingkat kematian rendah pada remaja, dan kenaikan tingkat kematian di usia yang lebih tinggi. Karena pola ini serupa pula pada seluruh hewan, peneliti melihat lebih fokus pada laju kematian awal dan peningkatan laju kematian pada usia tertentu.

Profesor Cale Finch dari Ethel Percy Andrus Gerontology Center, yang pada tahun 1990 menerbitkan artikel tentang monyet yang kecepatan penuaannya sama dengan manusia, mengatakan kalau penelitian ini mendokumentasikan pengaruh lingkungan terhadap kematian manusia dan primata selama proses penuaan. "Studi ini dan studi berikutnya penting bagi kelangsungan hidup manusia," katanya.

Sumber: http://www.nationalgeographic.co.id/lihat/berita/740/penuaan-manusia-mirip-simpanse-gorila-dan-primata-lain

Ozon di Kutub Utara Terus Menipis

Lapisan ozon di Kutub Utara terus mengalami penipisan. Temperatur udara yang relatif rendah sejak akhir tahun lalu mendorong penipisan ozon pada sebuah rekor baru.

Penipisan lapisan gas yang melindungi bumi dari radiasi ultraviolet (UV) yang dipancarkan matahari ini terdeteksi oleh lebih dari 30 stasiun pemantau yang tersebar di daerah kutub utara dan sub-arktik. Hasil pengukuran menunjukkan, separuh lapisan ozon pada ketinggian 20 kilometer telah mengalami kerusakan hanya dalam waktu seminggu.

Menurut Markus Rex, ilmuwan dari Alfred Wagener Institute (AWI), Jerman, yang memantau lapisan ozon, kerusakan diperkirakan masih akan terus terjadi karena kondisi yang menyebabkan terjadinya penipisan ozon masih terus berlangsung. Oleh karena itu, Rex merekomendasikan perhatian ekstra berupa perlindungan terhadap radiasi UV yang memadai pada musim semi tahun ini.

Kerusakan ozon terjadi disebabkan chlorofluorocarbons (CFCs) yang berubah menjadi zat agresif serta merusak ozon ketika terpapar udara yang sangat dingin. Para ilmuwan mengaitkan fenomena kerusakan ozon dengan perubahan iklim, terutama ketika musim dingin lalu temperatur udara terasa lebih dingin yang menyebabkan kerusakan yang lebih parah pada lapisan ozon.

Untuk mencegah kerusakan yang lebih parah terhadap lapisan ozon, sebuah kebijakan lingkungan internasional yang dinamakan Protokol Montreal telah diberlakukan. Berdasarkan protokol tersebut, penggunaan bahan berbahaya CFC dilarang di seluruh dunia mulai tahun 1987. 

Meski demikian, CFCs yang telah dilepas ke udara pada dekade sebelumnya akan tetap ada di atmosfer hingga berpuluh tahun mendatang. Oleh karena itu, nasib lapisan ozon di kutub utara sangat bergantung pada temperatur udara di stratosfer yang berada pada ketinggian sekitar 20 kilometer di atas bumi yang sekaligus berhubungan dengan perubahan iklim bumi. 

Sumber: http://www.nationalgeographic.co.id/lihat/berita/741/ozon-di-kutub-utara-terus-menipis

Cegah Kebutaan dengan Omega 3

Omega 3 membantu mencegah berbagai penyakit terkait pembuluh darah mata.


 Asam lemak omega 3 bukan hanya berdampak positif bagi kesehatan jantung, tetapi juga sistem penglihatan. Asam lemak esensial ini terbukti mampu melindungi dua pemicu utama kebutaan pada manusia.

Seperti dikutip My Health News Daily, hasil penelitian yang dilakukan ahli kesehatan mata dari Children Hospital Boston, dr Lois Smith, menunjukkan bahwa omega 3 membantu mengatur pertumbuhan pembuluh darah di mata.

Itu berarti, asam lemak dapat membantu mencegah penyakit mata seperti retinopati, yang disebabkan pertumbuhan berlebih pembuluh mata yang bocor. Termasuk degenerasi makula berkaitan dengan usia, yang disebabkan pertumbuhan abnormal pembuluh darah.

Asam lemak juga mengaktifkan protein yang meningkatkan sensitivitas insulin, yang menguntungkan penderita diabetes tipe 2. "Meski masih perlu penelitian klinis lanjutan, pasien bisa meningkatkan sensitivitas insulin dengan asam lemak omega 3 tanpa peningkatan risiko penyakit jantung," kata Smith. 

Smith mengungkap hasil temuan tersebut melalui percobaan terhadap tikus. Meski percobaan dilakukan terhadap tikus, ia yakin konsumsi dua gram omega 3, mengandung senyawa asam docosahexaenoic (DHA) dan asam eicosapentaenoic (EHA), per hari memberi manfaat sama pada manusia.

Penelitian Smith yang terbit di jurnal Nature Medicine menunjukkan, tikus yang diberi makanan kaya omega 3 memiliki pertumbuhan pembuluh darah mata 50 persen lebih banyak daripada tikus yang mengasup makanan kaya asam lemak omega 6.

Ini memperkuat penelitian sebelumnya yang menunjukkan, orang yang gemar mengonsumsi makanan mengandung omega 3, seperti ikan, memiliki risiko terserang penyakit mata lebih rendah dibandingkan mereka yang jarang makan ikan.

Bersama peneliti dari National Eye Institute, Smith kini melakukan pengujian terhadap AREDS2, sebuah suplemen omega 3 yang akan dikembangkan untuk membantu orang dengan degenerasi makula. Pengujian suplemen untuk mengatasi penurunan tingkat ketajaman akibat penuaan ini berlanjut sampai 2013.



Sumber: http://kosmo.vivanews.com/news/read/204227-cegah-kebutaan-dengan-omega-3

Jangan Buang Muka Saat Disuntik

Banyak orang reflek buang buka agar tak melihat proses masuknya jarum ke pembuluh darah.




Bagi sebagian orang, jarum suntik seolah momok yang sebisa mungkin dihindari. Jika terpaksa, mereka pun cenderung reflek membuang muka agar tak melihat proses masuknya jarum ke pembuluh darah. Padahal menurut penelitian, melihat proses penyuntikan justru mengurangi rasa sakit.


Kesimpulan itu berdasar percobaan tim dari University College London (UCL) dan University of Milan-Bicocca untuk mengetahui respons otak ketika menerima sinyal rasa sakit.
Percobaan dilakukan dengan menerapkan panas ke tangan 18 relawan. Partisipan mampu menahan suhu lebih tinggi ketika melihat tangan mereka di cermin, dibandingkan ketika tangannya tertutup balok kayu.


Melalui sebuah cermin cembung, mereka menyaksikan proses ketika tangan diberikan sentuhan panas. Menyaksikan proses itu membuat mereka bisa mengurangi level rasa sakit hingga 3 derajat celcius, dibandingkan ketika mereka tidak melihat prosesnya.


Penelitian ini telah dipublikasikan dalam Psychological Science dan memberikan pandangan baru tentang bagaimana otak memproses sinyal rasa sakit.


"Hal yang menarik adalah hubungan antara pengalaman rasa sakit dan representasi otak pada tubuh," kata Profesor Patrick Haggard, dari UCL, seperti dikutip dari Daily Mail. 


"Penelitian kami telah menunjukkan adanya interaksi yang menarik antara jaringan visual otak dan jaringan rasa sakit otak," katanya.


Meskipun penelitian ini untuk melihat rasa sakit yang tak terlalu parah, tetapi bisa membantu para ilmuwan untuk mengembangkan pengobatan baru bagi pasien yang mengalami rasa sakit kronis.
Sumber: http://kosmo.vivanews.com/news/read/204144-jangan-buang-muka-saat-disuntik

Ciuman Pertama Berakhir Kematian - Sindrom Kematian Mendadak Dewasa (SADS)

Sesaat setelah ciuman, kelopak matanya terkulai, mulutnya berbusa, lalu jatuh ke lantai


Ciuman pertama biasanya menjadi momen paling mendebarkan sekaligus membahagiakan. Namun, tidak bagi Jemma Benjamin. Ciuman pertama gadis 18 tahun ini justru berakhir kematian. 

Jemma menghembuskan napas terakhirnya beberapa menit setelah berciuman dengan sang pacar, Daniel Ross, 21. Itu merupakan ciuman pertama sekaligus menjadi ciuman yang terakhir bagi gadis asal Treforest, Pontypridd, South Wales.

Daniel bercerita, malam itu ia mengantar Jemma pulang dari sebuah bar usai makan malam berdua. "Kami mengobrol dan akhirnya berciuman di lorong dekat pintu depan. Kami pergi ke dapur dan ruang tamu. Disana, Jemma duduk di sofa," katanya seperti dikutip Daily Mail.

Sesaat setelah berciuman, kelopak mata Jemma tiba-tiba terkulai, mulutnya berbusa, dan tubuhnya terjatuh ke lantai. "Kami tidak melakukan hubungan seksual. Kami hanya berkencan beberapa kali dalam seminggu," kata Daniel yang mengenal Jemma di bangku kuliah sejak tiga bulan terakhir.

Daniel spontan menelepon ibu Jemma untuk menanyakan apakah Jemma menderita epilepsi. Melihat Jemma kehilangan kesadaran, Daniel pun segera menghubungi petugas medis. Ambulans datang, dan tim medis mencoba menyelamatkan nyawa Jemma, namun tak tertolong.

Jemma meninggal dengan diagnosis kondisi jantung langka, sindrom kematian mendadak dewasa (SADS). Bahkan, tak jarang menyerang saat pengidapnya sedang tidur. Sindroma ini membunuh setidaknya 500 orang dewasa Inggris tiap tahun.

Satu dari 20 kasus jantung langka yang menyebabkan kematian mendadak tidak memiliki penyebab jelas. Kondisi ini disebut sindroma kematian mendadak arrhythmic. Ini terjadi akibat gangguan irama jantung, yang lebih memengaruhi fungsi listrik pada organ, daripada gangguan struktur jantung itu sendiri.

Itulah mengapa hanya dapat dideteksi pada saat seseorang hidup, bukan setelah kematian. Kesalahan aliran listrik pada jantung disebabkan oleh cacat pada DNA, yang dapat diwariskan.

Sang ibu, Charlotte Garwood, mengatakan, Jemma adalah anak yang sangat bugar semasa hidup. Selain atlet hoki, Jenna juga seorang perenang jarak jauh. "Itu gambaran kesehatannya. Dan, hanya dalam satu menit ia diambil dari saya. Saya sangat merindukannya," kata sang ibu.



Sumber: http://kosmo.vivanews.com/news/read/204494-ciuman-pertama-berakhir-kematian