UN-backed initiative aiming to eliminate tuberculosis launched

13 October 2010 – 
A new initiative designed to combat tuberculosis, which claims the lives of nearly two million people across the world every year, could accelerate progress towards eliminating the disease if governments and donors commit enough funds to the plan, the United Nations health agency said today.The “Global Plan to Stop TB 2011-2015: Transforming the Fight Towards Elimination of Tuberculosis” identifies all the research gaps that need to be filled to make rapid TB tests available, bring faster treatment regimens and a fully effective vaccine to market, according to the UN World Health Organization (WHO).
Although TB is curable, the treatment requires taking a combination of drugs for at least six months. Laboratories in most countries are still using a century-old diagnostic method that involves searching for TB bacteria derived from a person's sputum under a microscope. There is still no vaccine able to prevent pulmonary TB, the most common form of the disease.
Some 9 million people become ill with TB every year, claiming nearly 2 million lives annually.
The new scheme unveiled today by the WHO-hosted Stop TB Partnership shows public health programmes how to promote universal access to TB care, including how to modernize diagnostic laboratories and adopt revolutionary tests that have recently become available.
It seeks to provide diagnosis and treatment approaches recommended by WHO for 32 million people over the next five years.
“There is an urgent need to scale up action against TB – 10 million people, including 4 million women and children, will lose their lives unnecessarily between now and 2015 if we fail,” said Margaret Chan, the agency’s Director-General.
“TB control works, with global incidence of the disease declining since 2004, although much too slowly,” she added.
The Global Plan provides a clear roadmap for addressing drug-resistant TB, calling for 7 million people to be tested for multi-drug-resistant TB (MDR-TB) and one million confirmed cases treated according to international standards over the next five years.
Every year, half a million people die from HIV/AIDS-related TB. If the plan’s targets are met, by the end of 2015, all TB patients will be tested for HIV and, if the test is positive, they will receive anti-retroviral drugs and other appropriate HIV/AIDS care. All patients being treated for HIV will be screened for TB and receive the preventive therapy or treatment necessary.
The new initiative calls for $37 billion for TB care between 2011 and 2015. A funding gap of about $ 14 billion – nearly $3 billion per year – will still remain and needs to be filled by international donors.
It includes a separate calculation of the funding required to meet targets for research and development – a total of $10 billion, or $2 billion per year. High-income countries and those with growing economies will need to increase their investment in research and development to fill an estimated gap of about $7 billion, or $1.4 billion per year.
In addition to helping public health programmes adopt already existing modern diagnostic tests, the scheme sets a research agenda aimed at creating two new “while-you-wait” rapid tests that trained staff at even the most basic health outposts can use to diagnose TB accurately.

Sumber: http://www.un.org/apps/news/story.asp?NewsID=36423&Cr=tuberculosis&Cr1=

Begini Cara NII Menyusup ke Mahasiswa Unair


TEMPO InteraktifSurabaya - Sekretaris Universitas Airlangga (Unair) Surabaya Hadi Subhan menyatakan 2 orang mahasiswanya direkrut oleh mahasiswa dari kampus lain untuk didoktrin menjadi pengikut gerakan Negara Islam Indonesia (NII). Dua mahasiswa yang menjadi korban berinisial S dan E dari Jurusan Kimia Fakultas Sains dan Teknologi.

Menurut Hadi, terungkapnya kedok NII berawal dari laporan teman-teman S dan E yang curiga dengan perubahan perilaku keduanya. "Dua-duanya jadi pendiam," kata Hadi, Rabu 27 April, Pihak rektorat kemudian mengorek keterangan dari keduanya. Berdasarkan pengakuan S dan E, mereka didekati oleh mahasiswa dari kampus lain di Surabaya yang menjadi aktivis NII.
S dan E didekati ketika tengah kuliah kerja di sebuah perkampungan di Surabaya. Selanjutnya, kata Hadi, S dan E diajak ke Jakarta dan Tangerang, Banten, untuk mengikuti baiat (sumpah setia). "Tapi, mereka lupa detail tempatnya," ujar Hadi.

Dalam proses perekrutan, kata Hadi, S dan E diminta menyetorkan uang sebanyak Rp 30 juta dengan alasan sebagai biaya dakwah NII. Untuk memenuhi permintaan itu keduanya terpaksa berkata bohong kepada orang tuanya bahwa uang tersebut untuk kebutuhan kegiatan di kampus. "Sampai-sampai ayah salah satu dari mereka menjual sapi," tutur Hadi.

Untuk mengantisipasi terulangnya kasus serupa, pihak universitas melaporkan kejadian itu ke Kepolisian Resor Kota Besar Surabaya. Hadi berharap polisi membongkar jaringan NII yang merekrut anggota dari kampus ke kampus. "Kepada korban, kami butuh waktu beberapa minggu untuk memulihkan kondisi mentalnya," tutur Hadi.

Sumber: http://www.tempointeraktif.com/hg/pendidikan/2011/04/28/brk,20110428-330570,id.html

Indonesia Rangkul Amerika dalam Kerja Sama Pendidikan Tinggi

Jakarta, 5 April 2011--Indonesia siap membangun kerja sama dengan Amerika, sebagai tindak lanjut dari kunjungan Presiden Barrack Obama tahun lalu.
     Amerika sangat terbuka menjalin berbagai kerja sama dengan pendidikan tinggi di Indonesia. Beberapa tahun silam, ratusan mahasiswa Indonesia kuliah di Amerika. Namun menurut Ketua The United States-Indonesia Society (USINDO) David Green kini, jumlah mahasiswa Indonesia di Amerika kian menurun. “Beberapa jenis kerja sama saat ini sedang dikembangkan. Nantinya akan ada perjanjian antara Pemerintah Indonesia dengan Amerika,” ungkap David.
     Direktur Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (P2M) Dikti Suryo Hapsoro juga berharap, kerja sama yang dibangun bukan hanya pertukaran mahasiswa. USINDO harus mampu mengembangkan penelitian yang topic dan pembiayaannya dikembangkan bersama. Sebelumnya, Indonesia telah bekerja sama dengan Pemerintah Perancis dan Australia dalam pengembangan penelitian bersama.
     Menanggapi hal ini, USINDO membuka setiap kesempatan kerja sama berbagai program studi dan penelitian. Selain itu, David juga mengungkapkan kemungkinan untuk kerja sama dengan pendidikan vokasi, termasuk dengan Politeknik. Dengan kerja sama ini, diharapkan mahasiswa maupun dosen merubah paradigma akademik menjadi vokasi.
     Sekretaris Dewan Pendidikan Tinggi (DPT) Nizam menyambut baik kerja sama ini. Selain pemberian beasiswa, “Kami mengundang pimpinan perguruan tinggi di Indonesia untuk saran rembuk dalam kerja sama dan peningkatan jumlah mahasiswa ke Amerika,” ujar Nizam. Nizam juga berharap USINDO memberikan informasi terkait program unggulan pendidikan tinggi di Amerika.

Sumber: http://dikti.kemdiknas.go.id/index.php?option=com_content&view=article&id=2044:layanan-informasi&catid=143:berita-harian

Microsoft Komit Terus Dukung Perusahaan TI Pemula

Microsoft mendukung pengembangan perusahaan TI lokal pemula di Indonesia dengan kembali mengadakan program IMULAI


JAKARTA - Microsoft mendukung pengembangan perusahaan TI lokal pemula di Indonesia dengan kembali mengadakan program IMULAI.
IMULAI sendiri adalah kompetisi inovasi bisnis berbasis teknologi informasi dan komunikasi untuk perusahaan TIK lokal yang akhir-akhir ini banyak bermunculan.
"IMULAI adalah bukti komitmen jangka panjang Microsoft dalam menumbuhkan ekonomi lokal. Kami akan terus mendukung inovasi lokal," ujar Sutanto Hartono, Presiden Direktur Microsoft Indonesia, di Jakarta, Rabu (6/4/2011).
Irvin Hutagalung, ISV and Entrepreneurship Program Manager Developer and Platform Group dari Microsoft Indonesia, menjelaskan bahwa IMULAI sudah memasuki penyelenggaraan ke-3 tahun ini. IMULAI 1.0 diselenggarakan pada tahun 2007, sementara IMULAI 2.0 pada tahun 2008.
Kriteria yang dicari di IMULAI 3.0 adalah jenis bisnis baru, inovatif dan didukung oleh inovasi TIK. Beberapa daerah yang disasarkan oleh IMULAI 3.0 adalah Jakarta, Medan, Bandung, Yogyakarta, Denpasar, Surabaya dan Makassar.
15 startup pemenang IMULAI 3.0 adalah NyanyiYuk, NgaturDuit.com, Movreak, RBT Ads Network, MediHaste, Football Saga, VirtuTrade, Primagamaplus.com, ngomik, Rockto.com, ProHukum, SendokGrapu, Verishop, Inkuiri.com dan NoLimit.
"Pada IMULAI 1.0 dan 2.0 hadiahnya masih berupa uang tunai, sementara untuk yang ketiga hadiah yang diberikan lebih bersifat jangka panjang," jelas Andy Laver Sirait, ketua panitia IMULAI 3.0.
Para pemenang IMULAI 3.0 akan mendapat lisensi software Microsoft senilai maksimal USD250 ribu sebagai bagian dari program Microsoft BizPark untuk perusahaan TI pemula, server untuk dukungan operasional perusahaan, dan kesempatan untuk berpartisipasi dalam acara pelatihan 'Start-up Bootcamp' di Jakarta 7-9 April nanti.
Selain itu, para pemenang juga berkesempatan untuk mempresentasikan proposal bisnis mereka di hadapan para investor dalam maupun luar negeri.
Sumber: http://news.id.msn.com/okezone/sci-tech/article.aspx?cp-documentid=4761613

Indonesia Sasaran Relokasi Industri China

VIVAnews - Pesatnya pertumbuhan ekonomi China merupakan peluang yang harus ditangkap pengusaha Indonesia. Banjirnya berbagai produk China di Indonesia harus dibarter dengan relokasi industri produk China.

Menurut Sekretaris Jenderal Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi), Mochamad Ridwan Mustofa, tingginya upah buruh dan harga tanah di China menjadi faktor yang mendorong relokasi industri China.

"Indonesia merupakan negara yang dapat menjadi prioritas relokasi industri dari China," kata Ridwan Mustofa di Jakarta.

Ridwan menjelaskan, China juga ingin mencari pabrik yang dekat dengan pasar. Dan Indonesia merupakan negara yang dinilai menjadi prioritas relokasi industri dari China itu.

Pertumbuhan ekonomi China yang sangat pesat bukan hanya harus dimanfaatkan Indonesia untuk menggandeng pengusaha Negeri Tirai Bambu untuk berinvestasi di Indonesia. Dengan melihat kondisi perekonomian Jepang dan Amerika yang sedang terganggu, maka China yang dianggap paling bisa diandalkan untuk berivestasi di Indonesia.

"Sebaiknya Indonesia menggandeng China untuk berinvestasi di high capital seperti infrastruktur dan manufaktur," kata Ridwan.

Berapa total investasi yang diharapkan dari China? Mengenai hal ini --dalam membangun infrastruktur-- Indonesia membutuhkan Rp500-1.000 triliun.

Dari kisaran investasi tersebut, China diharapkan dapat menyumbang 20 hingga 30 persen untuk pembangunan infrastruktur.

China merupakan negara dengan pertumbuhan ekonomi tercepat serta populasi terbesar di dunia. China mencetak rekor sebagai negara dengan cadangan devisa paling besar di dunia. Total cadangan devisa China sebesar US$2,65 triliun pada akhir September 2010.

Menurut People's Bank of China, kepemilikan mata uang asing naik US$194 miliar. Perdagangan China mencetak surplus dan aliran dana investasi juga menaikkan cadangan devisa sebesar 16,5 persen pada akhir September 2010. 



Sumber: http://bisnis.vivanews.com/news/read/211087-indonesia-harus-ambil-peluang-dari-cina

Waspadai Komposisi Impor Produk Industri Indonesia dari China

Jakarta: Kementerian Perindustrian menekankan perlunya mewaspadai komposisi impor produk industri Indonesia dari China. Hal tersebut terungkap dari hasil survey tim Koordinasi Penanggulangan Hambatan Industri dan Perdagangan pada bulan Oktober hingga Desember 2010.

Menurut Agus Tjahjana, Direktur Jenderal Kerjasama Industri Internasional Kemenperin, komposisi impor produk industri Indonesia dari China terhadap total impor mencapai 91,7 persen. Sedangkan komposisi ekspor produk industri Indonesia ke China hanya mencapai 51,3 persen.

Survey yang diselenggarakan berfokus pada inventarisasi, identifikasi dan analisis lima komoditas, yakni industri tekstil dan produk tekstil, mesin, furnitur, logam dan elektronika.


Sumber: http://www.metrotvnews.com/read/newscatvideo/ekonomi/2011/03/24/124871/Waspadai-Komposisi-Impor-Produk-Industri-Indonesia-dari-China

Peluang Relokasi dari Jepang Terbuka

JAKARTA– Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia menilai, ada peluang terjadinya relokasi industri Jepang ke Indoesia pascagempa dan tsunami yang melanda negeri tersebut. 
Indonesia termasuk salah satu negara yang potensial menjadi tujuan relokasi tersebut. Namun, untuk itu Indonesia harus mampu menarik minat para pengusaha Jepang. ”Kita harus tanggap terhadap kemungkinan itu dan berusaha meyakinkan mereka untuk mau merelokasi pabriknya ke sini,” ungkap Ketua Umum Kadin Suryo Bambang Sulisto di Jakarta kemarin.

Dia menegaskan, akan ada banyak dampak positif dari ralokasi pabrik-pabrik milik perusahaan besar dari Jepang ke Indonesia.Dipindahkannya pabrik-pabrik tersebut akan mendorong penciptaan lapanganpekerjaanyanglebihbanyak, memperkuat kinerja ekspor, dan memungkinkan terjadinya transfer teknologi dari industri Jepang yang lebih maju. Menurut Bambang, daerah dan wilayah-wilayah di Indonesia yang sangat luas bisa ditawarkan sebagai lokasi baru bagi pabrik-pabrik industri Jepang menggantikan yang sudah hancur akibat gempa dan tsunami beberapa waktu lalu. Dia menilai, jika terjadi relokasi, harus diarahkan agar pabrik-pabrik itu dibangun di wilayah timur Indonesia.

Terkait dengan itu,lanjut dia,wilayah timur Indonesia yang selama ini kurang diminati lantaran ketidaktersediaan infrastruktur yang memadai haru dibenahi. Bambang optimistis, keterbatasan ini tidak menutup peluang menarik investor asal Jepang untuk merelokasi industrinya ke Timur Indonesia. ”Kan sekarang ada konsep koridor ekonomi juga. Kita harus siapkan stimulus, insentif untuk di daerah timur,” ujarnya. Namun,Bambangmengakui, pembangunan infrastruktur pendukung memang tetap harus diperhatikan.Sebab,ketersediaan infrastruktur akan menjadi salah satu stimulus bagi para investor.Insentif lain yang bisa menarik minat pengusaha Jepang menurut dia adalah insentif fiskal dan moneter semisal keringanan pajak dan suku bunga.

Staf Khusus Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Bappenas Dedi Masykur Riyadi sepakat bahwa potensi pengusaha Jepang merelokasi pabriknya ke Indonesia terbuka lebar. Karena itu, tegas dia, harus ada kesiapan untuk menyambut peluang tersebut. ”Yang harus dipersiapkan kemudahan bagi mereka misalnya kemudahan untuk penambahan kapasitas.Saya kira tanpa keringanan fiskal pun, dengan kondisi ekonomi dan hubungan baik selama ini,bisa saja mereka masuk ke sini,” tuturnya. Kesiapan menurut dia sangat penting mengingat iklim kompetisi antarnegara-negara di kawasan Asia semakin tinggi dengan membaiknya kondisi perekonomian negara-negara ekonomi berkembang.

Dedi juga menilai wilayah yang berpotensi dikembangkan untuk relokasi industri dari Jepang adalah kawasan timur Indonesia, dengan konsep koridor ekonomi. ”Di wilayah timur bukannya tidak diminati, tapi belum siap karena infrastruktur.Sebenarnya potensinya besar, misalnya kalau mereka mau mengembangkan kakao, ke mana lagi kalau tidak ke wilayah timur,” katanya. Sebelumnya, Menteri Perindustrian MS Hidayat diketahui telah menawarkan kemungkinan relokasi tersebut.

”Saya mau menawarkan mereka untuk relokasi beberapa industri komponen (automotif) mereka dan industri yang sudah dilakukan di sini untuk dilakukan join local partner,” kata Hidayat beberapa waktu lalu. 

Sumber: http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/388920/